Friday, September 18, 2020

PETA SITUS AMERTA SUKHAVATI

  • PETA SITUS AMERTA SUKHAVATI

  • KISAH NYATA PENYELAMATAN BUDDHA AMITABHA
    MELAFAL AMITUOFO MEMANCARKAN CAHAYA
    KISAH MELAFAL AMITUOFO SEMBUH DARI PENYAKIT
    ARTIKEL PELENGKAP

    51 Melafal Sepatah Amituofo Menghapus Semua Dosa

     

     

    Melafal sepatah Amituofo menghapus seluruh rintangan karma buruk, mengapa masih harus tinggal di dalam kelopak Bunga Teratai 12 kalpa lamanya?

     

    Tanya :

    “Pedang tajam adalah lafalan Amituofo, melafal sepatah Amituofo dapat menghapus seluruh rintangan karma buruk.” Praktisi yang terlahir pada Bunga Teratai tingkatan bawah (bagian atas, menengah dan bawah), seluruhnya mengandalkan lafalan Amituofo sehingga terlahir ke Alam Sukhavati, mengapa bukannya bunga bermekar bersua dengan Buddha, masih harus menetap di dalam kelopak bunga hingga 12 kalpa lamanya?

     

    Venerable Zhisui menjawab :

    Pertanyaan ini lebih khusus, “Pedang tajam adalah lafalan Amituofo, melafal sepatah Amituofo dapat menghapus seluruh rintangan karma buruk”, ini adalah ucapan dari Master Shandao.

     

    Kalau memang ternyata seluruh rintangan karma buruk sudah terhapus, kenapa praktisi yang terlahir pada Bunga Lotus tingkatan bawah (tingkatan bawah bagian atas, tingkatan bawah bagian menengah, tingkatan bawah bagian bawah), bukannya bunga bermekar bersua dengan Buddha, masih harus menanti hingga 12 kalpa lamanya?

     

    Dari tinjauan karya tulis Master Shandao yang berjudul "Penjelasan Amitayurdhyana Sutra Dalam Empat Bagian" dan “Sutra Usia Tanpa Batas”, secara garis besar dapat dipahami dari dua aspek.

     

    Yang pertama adalah menuruti konsep waktu alam saha. Di Alam Sukhavati tidak ada konsep waktu, tidak ada perbedaan musim semi, musim panas, musim gugur dan musim dingin, tidak ada siang dan malam, selamanya adalah bercahaya cemerlang, maka itu konsep waktu yang tercantum di dalam “Amitayurdhyana Sutra” adalah menuruti istilah di dunia manusia, setelah melewati waktu sehari barulah bunga bermekar, atau tujuh hari kemudian barulah bunga bermekar, atau setelah 12 kalpa kemudian barulah bunga bermekar dan sebagainya.

     

    Master Shandao di dalam karya tulisnya yang berjudul "Penjelasan Amitayurdhyana Sutra Dalam Empat Bagian" menyatakan dengan jelas, konsep waktu ini adalah ditujukan kepada penghuni alam saha.

     

    Praktisi yang terlahir ke Alam Sukhavati pada Bunga Lotus tingkatan atas bagian menengah “tujuh hari kemudian barulah bunga bermekar”, Master Shandao menjelaskannya sebagai berikut : tujuh hari bukanlah waktu Alam Sukhavati, tetapi adalah waktu di alam manusia.

     

    Waktu tujuh hari di Alam Sukhavati hanyalah sebersit niat pikiran, hanya dalam sekejab saja sudah berlalu. Inilah perbedaan konsep waktu.

     

    Alam Sukhavati tidak muncul dan tidak lenyap, tidak ada fenomena muncul dan lenyap, maka itu dari sudut pandang ini dapat dijelaskan, tak peduli itu adalah waktu 12 kalpa besar atau 6 kalpa besar atau 7 hari, adalah berdasarkan konsep waktu di alam saha. Setelah terlahir ke Alam Sukhavati, tidak ada lagi konsep waktu.

     

    Di dalam “Sutra Usia Tanpa Batas” juga memiliki penjelasan yang sama, contohnya di Alam Sukhavati terdapat Bodhisattva, Sravaka dan Dewa, jika kita hanya melihat kalimat yang tersurat, tampaknya ada perbedaan.

     

    Tetapi “Sutra Usia Tanpa Batas” juga menyebutkan bahwa penduduk Alam Sukhavati semuanya juga memiliki “Kebijaksanaan nan tinggi dan kemampuan gaib sempurna”. Juga disebutkan bahwa : “Memiliki rupa dan penampilan yang sama”, sempurna akan 32 tanda Buddha.

     

    Kalau memang demikian halnya, lantas kenapa masih ada perbedaan sebutan Bodhisattva, Sravaka dan Dewa? Oleh karena menuruti istilah dari penjuru alam lainnya, contohnya di alam manusia ini ada istilah tinggi rendah, ada perbedaannya, jadi ketika Buddha Sakyamuni membabarkan Dharma di dunia ini, menuruti istilah di dunia manusia (supaya dapat dipahami manusia), makanya ada istilah Bodhisattva, Sravaka dan Dewa.

     

    Dapat dilihat bahwa Buddha Sakyamuni menggunakan upaya kausalya dalam membabarkan Dharma, demi menuruti kebiasaan para makhluk sehingga membabarkan fenomena perbedaan, demikian pula dengan adanya konsep waktu, inilah uraian pertama.

     

    Yang kedua adalah mencegah melakukan karma buruk. Di dalam “Amitayurdhyana Sutra” kita dapat melihat adanya “Sembilan tingkatan Bunga Teratai”, praktisi yang terlahir pada tingkatan atas dan menengah adalah orang-orang baik, hanya yang terlahir pada tingkatan bawah adalah orang jahat, yakni pelaku Pancanantariya Karma dan Sepuluh Kejahatan, makanya setelah terlahir ke Alam Sukhavati, harus menanti hingga waktu yang begitu panjang barulah bunga dapat bermekar, mungkin 12 kalpa besar lamanya, atau 6 kalpa besar dan sebagainya, mengapa Buddha Sakyamuni mengatakannya sedemikian rupa? Untuk mencegah para makhluk melakukan kejahatan.

     

    Andaikata Buddha Sakyamuni mengatakan bahwa praktisi yang terlahir ke Alam Sukhavati semuanya adalah sama, begitu lahir langsung menjadi Buddha, maka para pelaku kejahatan tidak punya rasa takut lagi, tidak perlu mengendalikan diri lagi, mereka akan beranggapan bahwa berbuat baik dan berbuat jahat apa bedanya lagi?

     

    Sang Buddha demi mencegah para makhluk melakukan kejahatan, makanya menyampaikan bahwa pelaku kejahatan yang setelah bertobat terlahir ke Alam Sukhavati, harus menanti hingga waktu berkalpa-kalpa kemudian barulah bunga dapat bermekar bersua dengan Buddha Amitabha.

     

    Master Shandao di dalam karya tulisnya yang berjudul "Penjelasan Amitayurdhyana Sutra Dalam Empat Bagian" juga mengurai tentang topik “mencegah kejahatan” ini.  

     

    Tekad Buddha Amitabha butir ke-18 menyatakan “Ketika Saya mencapai KeBuddhaan, semua makhluk di sepuluh penjuru alam, setelah mendengar namaKu “Amituofo”, asalkan dengan hati yang setulusnya membangkitkan keyakinan yang sepenuhnya, suka mempelajari ajaran Sukhavati, juga melimpahkan jasa kebajikan yang diperbuat dengan bertekad lahir ke Alam Sukhavati. Tak peduli berapa kali nama Buddha yang dilafalnya, bahkan saat menjelang ajalnya walau hanya melafal sepuluh kali saja juga dapat terlahir ke Alam Sukhavati. Jika tidak dapat terlahir ke Alam Sukhavati, maka Saya tidak akan mencapai KeBuddhaan. Terkecuali yang melakukan Pancanantariya Karma, ditambah dengan “menfitnah Dharma sejati”, maka tidak dapat terlahir ke Alam Sukhavati”.

     

    Pada bagian akhir kalimat disebutkan “Terkecuali yang melakukan Pancanantariya Karma dan menfitnah Dharma sejati”, tetapi “Amitayurdhyana Sutra” menyebutkan bahwa pelaku Pancanantariya Karma dan menfitnah Dharma sejati, asalkan memfokuskan pikiran melafal Amituofo berkesinambungan juga dapat terlahir ke Alam Sukhavati.

     

    Kedua judul sutra tersebut sama-sama dibabarkan oleh Buddha Sakyamuni, tetapi mengapa kalimat sutra yang tercantum di dalamnya bisa berbeda? Sesungguhnya butir tekad ke-18 adalah ditujukan untuk mencegah kita melakukan kejahatan; bila sudah sempat melakukan kejahatan, Buddha Amitabha juga takkan mengabaikannya.

     

    Asalkan pelaku kejahatan itu bersedia memfokuskan pikiran melafal Amituofo berkesinambungan, maka semuanya juga dapat terlahir ke Alam Sukhavati, sedangkan bagi orang yang belum sempat melakukan kejahatan, maka Sang Buddha menasehati mereka supaya jangan berbuat jahat, sehingga di dalam Sutra Usia Tanpa Batas dikatakan : “Terkecuali yang melakukan Pancanantariya Karma dan menfitnah Dharma sejati”.

     

    Maka itu Buddha Sakyamuni mengatakan bahwa praktisi yang terlahir di Alam Sukhavati pada Bunga Teratai tingkatan paling rendah, harus menanti hingga 12 kalpa besar kemudian barulah bunga bermekar bersua dengan Buddha Amitabha. Hal ini ditujukan untuk mencegah para makhluk melakukan kejahatan.

     

    Bila ditinjau dari kedua judul sutra tersebut, dapat diketahui bahwa Sang Buddha dalam membabarkan Dharma, di dalam pengetatan terdapat kelonggaran, di dalam kelonggaran terdapat pengetatan.

     

    Artikel terkait :

    Sembilan Tingkatan Bunga Lotus :

    https://daunbodhi.blogspot.com/2018/12/sembilan-tingkat-bunga-teratai.html

     

    Pancanantariya Karma dan Sepuluh Kejahatan baca di :

    http://daunbodhi.blogspot.com/2017/09/pancanantariya-karma-dan-sepuluh.html

     

     

     

    一声称念罪皆除,为什么还在胞胎中住十二劫?

     

    :「利剑即是弥陀号,一声称念罪皆除。」下品三生皆是称名往生,为何不是花开见佛,还在胞胎中住十二劫不等呢?

     

    智随法师解答这个问题比较专业,「利剑即是弥陀号,一声称念罪皆除」,这是善导大师说的。既然罪皆除了,为什么下三品(下下品、下中品,下上品)众生往生之后不能花开见佛,还要等十二劫、六劫?从善导大师的《观经疏》和《无量寿经》来看,大致可以从两方面来理解。

     

    第一是随顺娑婆世界的时间观念。极乐世界没有时间观念,极乐世界没有春夏秋冬,没有白天晚上,常时都是清净光明的,所以《观经》里的时间是随顺我们这个世间说的,一日花开、七日花开、十二大劫花开等等。善导大师在《观经疏》有明确说到,这个时间观念是针对娑婆世间来说的,在上品中生里有「七日花开」之说,善导大师解释说:七日恐不是西方净土的时间,而是此间七日。此间的七日在极乐世界就是一念之间,须臾之顷就过去了,就没有了。这就是时间观念不同。极乐世界是不生不灭的,没有生灭现象,所以从这个角度来理解,无论是十二大劫也好,还是六劫也好,还是七天也好,应该是针对娑婆世界的时间观念来说的。那往生西方之后,自然没有时间观念了。

     

    这是一层意思。这个意思在《无量寿经》也有类似说明,如《无量寿经》说极乐世界有菩萨、有声闻、有天人,单看文字好像有差别,但是《无量寿经》又说:极乐世界的声闻、菩萨、天人,表面上看有差别,本质上呢,「智慧高明,神通洞达」,智慧都一样的高明,六种神通都一样洞达通彻;「咸同一类,形无异状」,都是同一类的,形象上没有差别,都是三十二相、八十种好。既然如此,为什么还有这些声闻、菩萨、天人的差别呢?「因顺余方,故有天人之名」,是为了随顺他方世界而安的名,比如我们这个世间有高低,有差别,那么佛说法的时候随顺我们这个世间众生(或者其他世界的众生),说有菩萨、有声闻、有天人之名。可见佛说法有方便有真实,为了随顺他方众生说这个差别现象,乃至说这个时间观念也是如此,这是第一个意思。

     

    第二个意思是抑止造罪。我们看《观经》九品众生,上品或者中品(前面六品众生)都是能行善的,唯有下三品众生是恶人──五逆众生、十恶众生、破戒众生,那么下三品众生往生之后,花开见佛时间都比较漫长,或十二大劫或六劫不等,为什么佛要这样说呢?是要抑止众生造罪。如果佛说往生都一样,往生都是当下成佛,造罪的众生就没有敬畏心理,就对造罪没有约束,众生就会认为,既然如此,那行善跟造罪有什么差别呢?佛为了抑止众生造罪,就说如果造罪往生,花开见佛的时间就会很长,以此达到遮止造罪的效果。

     

    善导大师《观经疏》里明确说到关于「抑止」之意。如第十八愿最后说到「唯除五逆,诽谤正法」但是《观经》又告诉我们「五逆谤法,回心皆往」只要回心念佛,也能往生。为什么同样是佛说的,而两部经文的内容不同呢?其实第十八愿就是用抑止、遮止来防止我们造罪;如果已经造罪,阿弥陀佛依然摄取不舍。已造罪的众生回心皆往,未造罪的众生,佛就劝不要去造,所以说「唯除五逆,诽谤正法」。那么佛说下品下生可以往生,但往生之后十二大劫才花开,这就是在摄取门中,依然还要遮止众生造罪。两部经通观,即知佛说法,遮中有开,开中有遮。