Friday, July 24, 2020

40 Mama, Kita Bersua di Alam Sukhavati



Kisah Nyata Penyelamatan Buddha Amitabha
40. Mama, Kita Bersua di Alam Sukhavati

Saya bernama Li Rui-xin, tinggal di Dusun Danihe, Kabupaten Funing, Qinhuangdao, Provinsi Hebei. Putraku bernama Xiao-ke, tahun ini belum genap 10 tahun.

Sejak kecil kondisi kesehatannya tidak bagus. Usia 6 tahun, di daerah sekitar pelipis mata kirinya tumbuh benjolan. Saya dan suamiku membawanya ke Beijing untuk berobat, barulah tahu Xiao-ke menderita penyakit Neurofibromatosis(kelainan genetik dimana pertumbuhan sel terganggu sehingga tumbuh tumor-tumor pada jaringan saraf~sumber aladokter), harus dioperasi.

Setelah melalui pemeriksaan, ternyata kadar trombosit-nya rendah sehingga tidak bisa dioperasi. Selain itu sumsum tulangnya perlu diganti. Mendengar hal ini, saya dan suamiku jadi bengong!

Kami hanyalah keluarga petani biasa, mana ada banyak uang buat anak berobat! Kami berdua sambil berjalan menyusuri jalanan besar di Beijing, sambil mengeluarkan isak tangis, tetapi juga tidak berhasil memikirkan jalan keluar, akhirnya hanya bisa pasrah membawa anak pulang ke dusun.

Tahun 2013, putraku ketika sedang bersekolah, tiba-tiba lengan kanannya terbentur. Mulanya hanya luka memar, setelah lukanya sembuh mulai tumbuh benjolan, benjolan ini membesar dengan cepat. Sanak saudara mengusulkan supaya anak ini diberikan makanan bergizi untuk memperkuat imunitas-nya.

11 Februari 2014, saya dan suamiku membawa buah hati kami ke Kota Qinhuangdao untuk membeli produk kesehatan di pusat perbelanjaan Golden Future Commercial Building”, di sinilah kami bersua dengan Upasika Foyi, beliau menjelaskan pada kami tentang Hukum Sebab Akibat, serta penyelamatan Maitri Karuna Buddha Amitabha, bahkan menyarankan kami ke Vihara Hongshan di Anhui, tempat adiknya menjadi Bhiksu.

Tanggal 15 Februari, saya membawa putraku ke Vihara Hongshan, bertemu dengan ketua vihara yakni Master Zongcheng dan Master Zongjuan.

Master Zongcheng ber-Maitri Karuna menyampaikan Visudhi Trisarana kepada putraku, serta mengajarkan kami melafal Namo Amituofo, menyerahkan segala masalah kepada Buddha Amitabha, biarlah Buddha yang mengaturnya.

Kami tinggal di Vihara selama lebih dari 20 hari, mengikuti kebaktian dan melafal Amituofo. Benjolan di pelipis mata kirinya berangsur menyusut jadi kecil, benjolan di tangan kanannya juga berhenti membesar.

Master Zongjuan membawa kami ke Rumah Sakit Kanker untuk berobat, dokter menyarankan kami ke Rumah Sakit yang lebih besar di Beijing atau Tianjin.

Pada pertengahan Maret, Rumah Sakit Kanker di Tianjian mendiagnosis putraku menderita tumor ganas, menyarankan lengan kanannya diamputasi.

Saya dan suamiku setelah mendengar hal ini, bagaikan disambar petir di siang bolong. Saya bertanya pada dokter, apakah setelah lengan kanan anakku diamputasi, maka bisa menjamin dia sehat kembali, dokter menggelengkan kepala bilang tidak, bahkan nyawa anakku sewaktu-waktu bisa terancam.

Saya berdiskusi dengan suamiku, akhirnya dengan menahan perasaan pilu, kami memutuskan kalau memang anak kami tidak bisa disembuhkan lagi dan harus mati, jasadnya juga harus memiliki anggota tubuh yang lengkap, kami membawa buah hati kami pulang ke dusun! Melafal Amituofo mengandalkan Buddha Amitabha, menyerahkan Xiao-ke sepenuhnya kepada Buddha Amitabha!

Sampai di rumah, benjolan di lengan kanan putra kami telah membesar hingga menyerupai kepala bayi, setelah pecah keluar nanah tanpa henti. Saya beri tahu kondisi anakku kepada Upasika Foyi, dia berkata : “Mohonlah pemberkatan pada Buddha Amitabha. Jika masa hidup anak telah habis, biarlah dia pergi tanpa rasa sakit, terlahir ke Alam Sukhavati dengan damai; andaikata masa hidupnya masih ada, mohon berkati anak ini sehat kembali.”

Saya berlutut di hadapan rupang Buddha, memohon Buddha supaya memberkati putraku berhenti mengeluarkan darah, meringankan derita anakku. Akhirnya pada hari kedua, pendarahan berhenti, putraku tampak kembali bersemangat, saya dan suamiku merasa kaget sekaligus senang.

Tanggal 6 April, Upasika Foyi membawa beberapa orang sahabat Dharma datang membesuk putraku, saat itu benjolan di lengan kanannya telah pecah, bentuknya menyerupai seekor kodok besar.

Tetapi meskipun sudah pecah dan lukanya luas, tetapi anakku tidak merasakan kesakitan sama sekali. Harus kuakui bahwa manfaat dari melafal Amituofo sungguh menakjubkan tak terbayangkan!

Upasika Foyi menceritakan tentang kewibawaan lingkungan Alam Sukhavati kepada putraku, melafal Amituofo dapat terlahir ke Alam Sukhavati, putraku senang sekali mendengarnya.

Setiap hari saya bersama suamiku melakukan namaskara pada Buddha dan melafal Amituofo. Suamiku selalu tidak sanggup membendung air matanya.

Xiao-ke berkata pada kami : “Papa, Mama, kalian janganlah bersedih. Kalau memang saya masih memiliki sisa hidup di dunia ini, kelak saya akan meninggalkan keduniawian dan menyebarluaskan Ajaran Sukhavati. Sebaliknya kalau memang ajalku telah tiba, saya akan terlahir ke Alam Sukhavati mencapai KeBuddhaan, kelak mengikuti rombongan Buddha Amitabha datang menjemput kalian.”

Mendengar ucapan Xiao-ke, deraian air mata membasahi wajah kami berdua, kami menganggukan kepala.

Kali ini kami bertiga datang ke hadapan altar Buddha dan melafal Amituofo, Xiao-ke berkata : “Apa yang ada di dalam garis hidup, pasti takkan lari ke mana, sebaliknya apa yang tidak ada di dalam garis hidup, janganlah didambakan.”

Saat itu saya merasakan firasat buruk, saya dan suamiku saling bergantian melafal Amituofo siang malam 24 jam.

Tanggal 12 April pukul 17 lewat 55 menit, Xiao-ke berkata padaku : “Mama, kita berjumpa lagi di Alam Sukhavati!”

Saya berkata : “Nak, jangan menakuti Mama!” Perasaan yang tidak nyaman memenuhi benakku, firasatku mengatakan 3 hari lagi putraku akan terlahir ke Alam Sukhavati.

Tanggal 13, Xiao-ke mendadak berkata : “Ma, tolong gantikan pakaianku.” Setelah menggantikan pakaiannya, saya segera melafal Amituofo, bahkan menelepon Upasika Foyi.

Malam harinya Upasika Foyi tiba dirumahku, lalu kami melafal Amituofo bersama-sama.

Tanggal 14 pagi hari, beberapa sahabat Dharma juga ikut hadir melafal Amituofo. Siang harinya Xiao-ke ingin melakukan namaskara pada Buddha, saya menggendongnya ke hadapan altar Buddha agar dia dapat melakukan namaskara, saat itu Xiao-ke mengalirkan air mata.

Tanggal 14 April pukul 17 lewat 50 menit, Xiao-ke menghembuskan napas terakhir. Malam itu para sahabat Dharma berdatangan melafal Amituofo.

Tanggal 15 April pukul 10 pagi, Xiao-ke meninggal dunia telah 16 jam lamanya, lalu mengganti pakaiannya, jasadnya sangat lentur, sepasang kakinya dapat bersila, wajahnya lebih bagus daripada semasa hidupnya, wajahnya tampak berisi, tidak pucat pasi lagi.

Banyak warga dusun yang melihatnya merasa heran. Setelah jasad Xiao-ke dikremasi, dari abu kremasi muncul banyak sarira atau relik, membuat banyak orang terkejut.

Sebuah akhir yang luar biasa dan tak terduga, membuat hati kami sangat terhibur! Kami sekeluarga dan warga dusun meyakini sepenuhnya, Xiao-ke yang berusia 9 tahun telah dijemput Buddha Amitabha, terlahir ke Tanah Suci Sukhavati.

Catatan :
Ketidakkekalan tidak membedakan tua dan muda, seorang anak usia 9 tahun juga tidak dapat menghindarinya, betapa menyedihkannya! Penyelamatan Buddha Amitabha yang tanpa syarat, asalkan mengulang namaNya pasti terlahir ke Tanah Suci Sukhavati, memperoleh usia tanpa batas, sungguh keberuntungan yang luar biasa!

Dengan penulisan artikel ini, semoga semua makhluk yang berjodoh bersama-sama ikut menikmati keberuntungan ini.

Namo Amituofo!

Ditulis oleh : Li Rui-xin dan Upasika Foyi
Tanggal : 20 April 2014



「妈,咱西方见!」——9岁男童往生纪实

我叫李瑞欣,家住河北省秦皇岛抚宁县牛头崖镇大泥河村。儿子叫肖克,今年还不到10岁。他从小身体就不好。6岁时,他左眼及附近的太阳穴起了包。我和丈夫便带他去北京看病,才知道肖克得的是神经纤维瘤,需要做手术。但经检查,他的血小板含量低,不能手术。医院又给他做了脊髓穿刺,化验结论是:得更换骨髓。我和丈夫一听就懵了!我们只是普通的农民,根本就没有这么多钱给孩子看病啊!我们两个大人愁得在北京的大街上就哭了,可是又想不出办法,只好回家。

2013年底,孩子上学时右手臂磕了一下。起初只是淤青,淤青退了就开始长包,这个包长得很快。亲属建议给孩子吃点保健品增加免疫力。2014年2月11日,我和丈夫就带孩子来到秦皇岛的金色未来商厦买保健品,在那认识了佛忆居士。佛忆跟我们讲了因果的道理,还讲了阿弥陀佛慈悲的救度,并建议我们去安徽的弘善寺,她出家的弟弟在那里。

2月15日,我带着孩子来到弘善寺,见到了住持宗成法师和宗眷法师。宗成法师特别慈悲,为我和孩子授了皈依,还为我们讲了阿弥陀佛本愿救度的道理,让我们专念「南无阿弥陀佛」,把所有的事情都交给阿弥陀佛来办。我和孩子在寺院住了二十来天,每日随师父们上早晚课,平时念佛、拜佛。渐渐地,孩子发生了一些变化:原本长在要害部位——左眼及太阳穴旁的纤维瘤变小了,而右手臂上的包却变大了。宗眷法师带我们去宣城肿瘤医院做检查,医生建议说去天津、北京的大医院看一看。

3月中旬,天津肿瘤医院诊断出孩子得的是恶性肿瘤,建议切除右手臂,我和丈夫听了如雷轰顶。我问医生,手臂切除了孩子能不能恢复健康,医生说不能,而且随时都会有生命危险。我同丈夫商量之后忍痛决定:既然治不了,死也得留个全尸,我们回家!念佛靠佛,就把肖克完全交给阿弥陀佛了!

回到家里,孩子手臂上的肿瘤已经大得像小孩头一样,破裂之后,流血不止。我跟佛忆说孩子的情况,她说:「求佛加持。如果孩子阳寿已尽,就让他身无病苦,安然往生净土;如果阳寿未尽,就加持孩子恢复健康。」我跪在佛前,求佛力加持我儿子止住出血,让孩子减少痛苦。血果然在第二天就止住了,孩子也精神得多,我和丈夫都惊奇不已。

4月6日,佛忆和几位莲友来我家看孩子,这时孩子手臂上的肿瘤已经溃烂,像一只大金蟾趴在那里。可是虽然烂成这样,孩子竟也一点都不觉得疼,一声也不哭。我不由得感叹念佛的作用真是不可思议!佛忆给孩子讲极乐世界的庄严美好,念佛就能去极乐世界,孩子非常坦然地接受。我和丈夫每天拜佛、念佛。孩子他爸终究心疼儿子,忍不住哭了。肖克跟我们说:「爸妈,你们别难过。我有命就活着,将来出家弘扬阿弥陀佛救度一法。没命我就往生成佛,将来我脚踏莲花、手捧莲花,把手里的莲花往你们脚下或屁股下一掷,就把你们接走。」听孩子这么说,我俩泪流满面,连连点头。这次我们三口来到佛前念佛,孩子忽然说:「命里有时终是有,命里没有莫强求。」我当时就有一种不好的感觉,开始跟丈夫24小时轮流为孩子念佛。

4月12日17点55分,肖克对我说:「妈,咱西方见!」

我吃惊地问他什么时候去西方,他说:「3小时后。」我说:「孩子,你不要吓我啊!」那种不好的感觉再次涌上心头,我觉得儿子可能是三天后就要往生了。

13日上午,肖克忽然说:「妈,给我穿衣服,穿我以前的衣服。」我一听不好,就给他穿了衣服,开始念佛,并给佛忆打电话。晚上佛忆来到家里,拿着净宗法师写的助念开示文念给肖克听,并且一起为孩子念佛。14日上午又有几位莲友来为肖克助念。中午肖克说要拜佛,我就把他抱起来拜佛,肖克当时流泪了。嫂子也是学佛的,便请了学圣道门的助念团来为肖克助念。可是他们的开示肖克接受不了,心不安。我们就把助念团送走,接着念佛。

4月14日17点50分,肖克安然落气。

莲友当晚又赶来为肖克助念。15日上午10点,肖克落气已经16个小时,给他穿衣服时,他的身体非常柔软,双腿都能盘上,手指的最小关节都能动,跟活着时没啥差别。容貌也比他生前还要好看,脸胖了,面色也不苍白了。很多村民看到都感觉吃惊。火化后,肖克的骨灰里拣出很多舍利子,更是让人惊讶。

这样殊胜、意外的结局,给了我们莫大的安慰!我们一家人和村民都彻底相信,9岁肖克被阿弥陀佛接引,往生到了极乐净土。

无常来临,九岁孩童也不能幸免,这是何等的悲苦!弥陀无条件的救度,令称名者皆得往生净土,得无量光寿,这是何等的大幸!记录此篇,愿一切有缘,共享此幸。南无阿弥陀佛!

    李瑞新、佛忆居士记录 佛康居士整理
    2014年4月20日


摘录自
念佛感应录(七)