Sunday, July 26, 2020

46 Akhir Pengelanaan Meat Lover



Kisah Nyata Penyelamatan Buddha Amitabha
46. Akhir Pengelanaan Meat Lover

Ayahku bernama Xue Hui-quan, tinggal di Kota Fuxin, Provinsi Liaoning. Ayah adalah orang yang gampang emosi dan pemarah, dalam waktu keseharian suka makan daging, terutama yang banyak lemaknya.

Usia 49 tahun menderita “cerebral thrombosis” (penyakit kelainan pembuluh darah akibat pembentukan gumpalan darah pada pembuluh darah di otak),  setelah itu jalannya jadi begitu lamban, penyakitnya ini kambuh sebanyak tiga kali.

Tanggal 7 Juni 2008, karena penyakitnya kambuh makanya tidak dapat bangkit dari tempat tidur lagi, tangan kanannya mengepal dengan sangat kuat, kami berusaha membukanya juga tidak bisa, sampai-sampai telapak tangannya jadi terluka dan membusuk. Pada stadium akhir, sekujur tubuhnya mengalami pembusukan, bau-nya bukan main.

Ibunda-ku adalah seorang praktisi Buddhis yang taat, dalam keseharian membaca “Surangama Sutra”, “Ksitigarbha Sutra”, bahkan sangat terampil, sudah hampir 20 tahun lamanya.

Ayahku sakit-sakitan hingga sampai kondisi parah begini, Ibunda masih setia membersihkan lukanya, membubuhkan obat, sudah banyak resep yang digunakan, tetapi lukanya yang membusuk tak kunjung sembuh juga.

Setahun yang silam, saya berkenalan dengan dua orang sahabat Dharma di dunia maya, yakni Jingxiu dan Fokang. Mereka memperkenalkan padaku Ajaran Sukhavati, dimana penyelamatan Buddha Amitabha adalah tanpa syarat, tak peduli siapapun juga, asalkan bersedia terlahir ke Alam Sukhavati, memfokuskan diri melafal Amituofo, maka dengan mengandalkan kekuatan tekad Buddha Amitabha, pasti terlahir ke NegeriNya. Saya juga sampaikan hal ini kepada Ibundaku.

Kemudian Jingxiu dan Fokang secara terpisah datang membesuk Ayahku, menjelaskan tentang keindahan panorama Alam Sukhavati dan penyelamatan Buddha Amitabha yang tanpa syarat. Di sana tidak ada penderitaan, yang ada hanyalah kebahagiaan, asalkan bersedia melafal Amituofo, saat menjelang ajal, Buddha Amitabha pasti datang menjemput praktisi terlahir ke Alam Sukhavati.

Ayah meskipun tidak sanggup berbicara, tetapi dia dapat mengerti. Ketika ditanya apakah beliau bersedia terlahir ke Alam Sukhavati, dia mengangguk, bahkan mengalirkan air mata.

Ibunda yang mendengar ajaran yang begitu unggul, akhirnya melepaskan semua sutra, tidak membacanya lagi, beralih memfokuskan diri melafal Amituofo berkesinambungan.

Mulanya saya adalah seorang Atheis, kini melafal Namo Amituofo, setengah percaya setengah tidak, namun saya tetap berharap Ayah dapat terlahir ke Alam Sukhavati, ini merupakan harapan setiap anak.

Saya berharap pada momen terakhir Ayahku, Jingxiu dan Fokang dapat hadir membantu melafal Amituofo, mereka menyetujuinya, saya dan Mama senang sekali.

Fokang tinggal di Heilongjiang yang berjarak cukup jauh dari Liaoning, dia takut terlambat sampai di Liaoning, makanya menghubungi perkumpulan sahabat Dharma setempat supaya dapat hadir membantu melafal Amituofo.

Bulan November, kondisi Ayah memburuk, tiap hari menjerit sekuat tenaga, entah apa sebabnya, sepertinya sangat menderita sekali, juga sepertinya sangat ketakutan sekali.

Saya segera menghubungi perkumpulan sahabat Dharma setempat supaya datang membantu melafal Amituofo, hasilnya sungguh efektif, Ayah tidak menjerit-jerit lagi, berubah jadi tenang.

Tanggal 24 Desember, pukul 8 lewat 50 menit malam hari, Mama menelepon mengabarkan Ayah telah meninggal dunia. Sambil mengemudi bergegas pulang ke rumah, sambil sibuk menghubungi sahabat Dharma.

Fokang menghiburku supaya jangan panik, katanya Buddha Amitabha akan menjadi sosok pertama yang hadir duluan, menasehati kami supaya menenangkan diri dan melafal Amituofo.

Para sahabat Dharma kemudian tiba di rumah dan memberi ceramah sejenak lalu kami mulai melafal Amituofo.

Tanggal 25 pukul 3 sore, Jingxiu dan Fokang tiba di rumahku. Para sahabat Dharma saling bergantian melafal Amituofo, sampai pukul 9 malam, Ayah meninggal dunia sudah 24 jam lamanya, sahabat Dharma membantu membersihkan jenazah Ayah dan menggantikan pakaiannya.

Kami melihat kepalan tangan Ayah yang sudah sepanjang 5 tahun, akhirnya kini terbuka sudah, tangannya sangat lentur, juga utuh, tidak tampak ada luka yang membusuk.

Mulanya yang paling saya takutkan adalah bau busuknya, takut mengganggu para sahabat Dharma. Tetapi selama dua hari kami melafal Amituofo, tidak mencium bau busuk sama sekali, sungguh menakjubkan tak terbayangkan!

Setelah abu kremasi Ayah dikuburkan, kami pulang ke rumah, Ibunda dengan gembira memberitahukan pada Fokang : “Pagi tadi saya melafal Amituofo, dalam hati terasa begitu sejuk, seakan-akan tidak ada kejadian apa-apa, dalam hati terasa begitu bersukacita!”

Fokang berkata pada Ibunda : “Saya juga ikut bersukacita, mungkin Buddha Amitabha datang menghibur dan memberkati Bibi.”

Abang, kakak ipar, adik, adik ipar, yang menyaksikan langsung rentetan peristiwa ini, juga mendengar ceramah yang disampaikan para sahabat Dharma, mengetahui ternyata Alam Sukhavati begitu indah sempurna, akhirnya jadi meyakini Buddha, melafal Amituofo, membulatkan tekad terlahir ke Tanah Suci Sukhavati.

Sahabat-sahabat Mama yang sebelumnya belajarnya tidak terfokus, setelah menyaksikan langsung keunggulan dari melafal sepatah Amituofo, kini membangkitkan keyakinan hati dan memfokuskan diri melafal Amituofo berkesinambungan.

Oleh : Xue Lihua
Tanggal : 31 Desember 2013




父亲终于得离苦——薛会权往生纪实

我的父亲薛会权,家住辽宁省阜新市清河门区。

父亲脾气大,爱发火,平时爱吃肉,特别爱吃肥肉。49岁时患了脑血栓,病后走路非常迟缓,前后犯病三次。从2008年6月7日犯病起就不能起床了,而且右手攥拳非常紧,我们用手掰都掰不开,捂得手心溃烂。后期全身溃烂,恶臭无比。

我母亲信佛很虔诚,平时念经,《楞严经》《地藏经》都念得很熟,大约快20年了。父亲病成这样,母亲每天给他洗,上药,用了各种药方,但是他身上不是这溃烂就是那溃烂,总是不好。

去年我在网上结识了远在哈尔滨的净修和佛康两位莲友,他们跟我介绍善导大师的净土思想,说阿弥陀佛的救度没有条件,不论什么人,只要愿生阿弥陀佛的净土,专称弥陀名号,乘佛愿力,必定往生。我把这些也全转告了母亲。

今年两位莲友分别来我家看望我父亲,给他讲极乐世界的种种美好和阿弥陀佛无条件的救度:那里没有病苦,没有一切苦恼,有的是无量的喜乐,只要念佛,将来阿弥陀佛就一定能接引往生到极乐世界,再也不像现在生病这么苦。

父亲虽不能讲话,但他听明白了。问他愿不愿意去极乐世界,他表示愿意去,还流出了眼泪。母亲听了这么殊胜的教法,把各种经咒全都放下不念了,开始专念南无阿弥陀佛。我本来是什么都不信的人,半信半疑地念几声南无阿弥陀佛,但却希望父亲能够往生极乐世界,这是我这当女儿的最大愿望。我希望父亲不行的那一天,能请两位莲友来给他开示、助念,让我父亲往生西方极乐世界。他们答应到时候一定来帮助老人家,我和妈妈听了心里特高兴。

佛康担心黑龙江和辽宁离得远,远水不解近渴,耽误老人往生大事,就帮我联系到了阜新当地同样学善导大师净土思想的莲友,这样认识了阜新弥陀之家的众莲友。

上个月(11月)父亲病情加重,每天都用力喊,不知喊什么,好像很痛苦很害怕。我请阜新莲友来我家给我父亲作开示、念佛,效果非常好。之后,父亲就不再喊叫,变得平静了。

12月24日晚8点50分,妈妈打来电话说父亲走了。听到后我一边开车往家赶,一边给哈尔滨的两位莲友打电话,请他们第二天就来。佛康安慰我不要慌,说阿弥陀佛第一时间就会到,要我们念佛,让我先通知阜新的莲友来助念。阜新莲友连夜打车赶来,就给父亲开示助念,让我们一家非常感动。

25日下午3点半,净修和佛康也从哈尔滨赶到我家。莲友们分班助念,每隔一段时间开示一次。到晚上9点钟,离父亲逝世已过了24小时,莲友们帮父亲净身、换衣服。我们看到父亲攥了5年的拳头松开了,手很软,手掌完好,看不到溃烂的伤口。我原来最担心的就是那股恶臭味,怕熏坏莲友,怕人家嫌弃。助念这两天,也闻不到一丝臭味,真是不可思议!

出殡那天,来了三四百人。在告别大厅,没放哀乐,放着「南无阿弥陀佛」圣号,家属、莲友和前来为父亲送行的领导、同事、朋友一起为老人家念佛,念了二十分钟!大家都说这样的葬礼没见过,有一种说不出的感觉,既简朴又庄严,不像普通的葬礼那样让人心里特别难受。

安葬了父亲的骨灰,回到家里,母亲高兴地告诉佛康:「今天早上我念佛,佛号念得一句接一句,心里特别清凉,好像什么事也没发生一样,心里特别高兴!」佛康对母亲说:「真为您高兴,这也许是阿弥陀佛安慰您,对您的加持。」

我的哥哥、嫂子、弟弟、弟妹,亲眼看到发生的一切,又听莲友讲解佛法,极乐世界那么美好,也都信佛了,愿意念佛,将来往生极乐世界。

母亲周围的佛友,看到专念一句佛号竟然如此殊胜,就有了信心,都愿意学习善导大师净土思想,不再走杂行杂修的路了,专门念这句「南无阿弥陀佛」。

    薛立华记述佛康居士整理
    2013年12月31日

 
摘录自
念佛感应录(七)