Saturday, January 25, 2020

21 Hati Ibunda


Kisah Melafal Amituofo Sembuh dari Penyakit 21
Hati Ibunda

Saya bernama Gu Hui-qin, berasal dari Xiantao, Provinsi Hubei. Pada tahun 2006 tiba-tiba semangatku menurun drastis, entah sejak kapan di leherku tumbuh dua benjolan kecil.

Mulanya saya juga tidak menghiraukannya, hingga suatu malam saat menjelang tidur, saya meraba bagian leherku, barulah menyadari benjolan itu kian membesar.

Esok harinya, suamiku membawaku periksa di Rumah Sakit, hasilnya sungguh mengejutkan yakni kanker nasofaring stadium menengah. Tangisku pecah, dengan frustasi bertanya pada dokter, saya dapat hidup berapa lama lagi.

Dokter cuma menghiburku bilang, penyakit begini sudah umum, asalkan rajin-rajin menjalani terapi, maka peluang untuk sembuh adalah sangat besar.

Setiap hari saya hanya mampu menelan 1/3 gelas susu saja, sesuap sup telur, kurus sampai bobot tubuh kini cuma berkisar 70 pound saja, sehelai rambut pun tidak tampak lagi, kini kepalaku sudah plontos.

Wajahku dipenuhi bintik-bintik hitam akibat efek samping konsumsi obat-obatan, betul-betul tidak mirip manusia lagi. Obat kemoterapi disuntik ke pembuluh darah di lengan langsung menuju ke jantung. Pagi hari saat bangun tidur, bahkan cairan empedu pun sudah dimuntahkan keluar.

Selama proses terapi, saya pernah jatuh pingsan akibat keracunan obat, saat siuman, hanya bisa pasrah memandangi langit-langit kamar pasien sambil menghitung waktu, sedetik, semenit, sehari, sebulan, harus tunggu sampai kapan barulah bisa keluar dari hari-hari menyiksakan ini!

Pada perayaan Imlek, saya minta cuti tiga hari pada dokter di Rumah Sakit, suamiku membawaku pulang ke rumah. Putriku yang melihat kepala plontos-ku bertanya : “Mama kenapa sekarang berubah jadi “Tong Sam Cong”, rambutnya di mana?”

Meskipun penyakit membawa padaku siksaan jiwa dan raga, namun saya tetap berupaya gigih dan bertahan. Oleh karena saya masih memiliki Ayahbunda, putriku, dan keluargaku, saya tidak ingin meninggalkan mereka.

Dua bulan kemudian, pihak Rumah Sakit kembali melakukan pembedahan pada diriku, guna mendiagnosis lebih lanjut tentang penyakitku. Masih jelas dalam ingatanku, waktu itu di tubuhku terpasang lima buah tabung Drainase bedah (tabung yang digunakan untuk mengeluarkan nanah, darah atau cairan lain dari luka).

Hasil diagnosis-nya adalah kanker nasofaring yang telah menyebar sampai ke paru-paru, lagi-lagi saya harus menjalani dan “menikmati” proses  siksaan yang tak terungkapkan dengan kata-kata.

Salah satu tabung Drainase yang dipasang di rongga dada dan berukuran jumbo itu, membuat saya tidak bisa bergerak sama sekali, juga tidak bisa berbaring, tiap malam hanya bisa tidur dalam posisi duduk, sedangkan di rongga hidung dipasang selang lambung, yang juga cukup menyiksakan, oleh karena selalu menyebabkan mual.

Ketika tersisa satu tahapan proses terapi akan selesai, saya menderita demam, suhu tubuhku naik menjadi 39 derajat, selama tiga hari setetes air pun belum masuk ke dalam tubuhku.

Mama jadi panik lalu berkata pada dokter : “Duh...apakah proses terapi sudah boleh diakhiri? Jika diteruskan lagi nyawa orang bisa melayang lho”.

Tuhan takkan membiarkan jalan manusia buntu! Mama pulang ke kampung halaman, tiba-tiba mendengar ada orang yang bilang, hanya dengan melafal “Namo Amituofo” dapat menyelesaikan segala kerisauan dan penderitaan.

Kemudian Mama pergi ke Vihara, guna menemukan sebuah solusi kehidupan baru bagi diriku. Malangnya nasib Ayahbunda di dunia ini, jerih payah dan pengorbanan mereka tidak pernah dipahami dan dihargai anak-anaknya. Suatu hari dalam keadaan hujan deras, Mama melakukan satu langkah satu namaskara, sampai ke “Vihara Mi Tuo Si” yang berlokasi di Xiantao, sebagai upaya terakhir yang dapat dilakukannya demi putri tercintanya!

Sementara itu diriku yang sudah kenyang menikmati siksaan bertubi-tubi, yang telah kehilangan segala asa, ibarat menemukan secercah harapan, maka itu cepat-cepat melafal “Namo Amituofo” berkesinambungan. Alhasil saya memperoleh mukjizat kesembuhan!

Kini siksaan itu telah 5 tahun berlalu, kondisi fisikku juga tahun demi tahun kian membaik, efek samping dari proses terapi juga berangsur-angsur hilang.

Semua ini adalah berkat perlindungan Maitri Karuna Buddha Amitabha, demikian pula hari-hari selanjutnya, hidupku akan terus ditemani oleh Buddha Amitabha! Saya adalah insan yang paling beruntung di dunia ini!

(Gu Hui-qin, 26 November 2014)

Disadur dari ebook berjudul :
《念佛癒病》(一)



二二、煉獄遠離 念佛重生

我叫辜慧琴來自湖北仙桃一個普通的家庭二○○六年忽然覺得自己總是提不起精神來脖子上不知什麼時候長了兩個小包塊起先我也沒在意這些直到有天晚上睡覺之前摸了摸自己的脖子發現突然長大了好多

第二天先生帶我去醫院檢查診斷結果讓人天崩地裂——鼻咽癌中期我失聲痛哭絕望地問醫生我還能活多久醫生只是安慰我說這個病很常見只要我好好配合治療還是有很大的希望好起來

我每天只能進食三分之一杯牛奶一小口蛋花湯瘦到了七十斤頭髮也一根不剩全掉光臉上全是藥物引起的黑色素沉澱真不像個人樣了化療的藥物從我的胳膊靜脈直接輸到心臟早上醒來連膽汁都吐出來了中途我曾因藥物中毒昏迷在清醒的時候只能無奈地望著天花板數時間一秒一分一天一月到底何時才能走出這段痛苦的日子啊!

春節期間我向醫生請了三天假由先生帶我回了家女兒看著我的光頭問「媽媽你怎麼變成『唐僧』了你的頭髮呢?」

雖然病魔給我帶來了身體和心理的雙重痛苦我仍然在堅持著因為我還有父母、女兒、自己的家我不想離開他們

兩個月後醫院又要對我進行手術診斷我清晰記得自己身上插了至少五根引流管最後的診斷結果是「鼻咽癌肺轉移」我又開始「享受」生不如死的折磨了胸腔裡面那根粗大的引流管讓我動彈不得又不能平躺下來每晚我只能坐著睡覺鼻腔裡面插著胃管也特別難受總反胃

最後一次治療快結束時我高燒三十九度三天滴水未進媽媽著急地對醫生說「治療可以結束了嗎?再這樣治下去要出人命的

真是天無絕人之路!媽媽在老家偶爾聽人說起只要念「南無阿彌陀佛」就可以解決所有的煩惱和痛苦於是她走進廟堂去尋找生命的另一個出口可憐天下父母心在一個大雨天裡媽媽一步一磕頭拜到了仙桃彌陀寺為她的女兒做最後的努力!

受盡折磨的我在徹底絕望時像抓住一根救命稻草一樣把一句「南無阿彌陀佛」時刻掛在嘴邊我竟然奇蹟般地康復了!

如今那段煉獄般的日子已經過去五年多了我的身體一年比一年好治療的後遺症也逐漸改善這一切都是阿彌陀佛的慈悲加佑我相信以後的人生會有阿彌陀佛一直在陪伴、在呵護!我真是世界上最幸運的人!

(辜慧琴 二○一四年十一月二十六日)

摘錄自 :
《念佛癒病》(一)