Sunday, July 5, 2020

18 Balita Selamat dari Bahaya


Kisah Nyata Penyelamatan Buddha Amitabha
18. Balita Selamat dari Bahaya

Salah seorang tetangga ibu mertua-ku, memiliki seorang putri, beberapa tahun yang lalu menikah.

Setelah menikah dia mempunyai seorang putra yang masih berusia 3 tahun, namun malangnya mati dalam bencana banjir. Sekarang dia dikaruniai seorang putra lagi, masih belum genap usia 3 tahun.

Beberapa hari yang lalu, balita ini mendadak menderita demam tinggi, napasnya melemah, denyut jantung juga melemah, oleh karena pertolongan darurat di Rumah Sakit Kabupaten tidak efektif, makanya dipindahkan ke Rumah Sakit Anak.

Tiga hari menjalani rawat inap, kondisinya makin memburuk. Dalam kondisi tak berdaya, Mama balita itu bertanya padaku, bagaimana sebaiknya? Saya bilang padanya, tidak ada cara lain, hanya bisa memohon pada Bodhisattva Avalokitesvara, memohon pada Buddha Amitabha.

Papa balita itu berkata, andaikata buah hati mereka meninggal dunia, dia juga tidak ingin hidup lagi, bahkan berkata bahwa musibah ini berkaitan dengan kuburan leluhur mereka, bersiap-siap pulang ke rumah untuk membongkar makam leluhur.

Tetapi setelah mendengar nasehatku, seluruh anggota keluarga berlutut di hadapan rupang Buddha sambil menangis pilu, berikrar meyakini Buddha, melafal Amituofo.

Kemudian saya memberikan selembar kartu yang bertulisan aksara “Buddha” dan satu unit mesin pelafal Amituofo, supaya diletakkan di sisi bantal balita.

Mereka sekeluarga melafal Amituofo dengan setulus hati, hingga lebih dari satu jam kemudian, balita yang semula menderita gagal pernapasan dan gagal jantung, berangsur-angsur kondisinya pulih kembali.

Saya berpesan pada mereka supaya memutar lafalan Amituofo 24 jam tak terputus, siang malam melafal Amituofo. Akhirnya tiga hari kemudian, balita telah sembuh, menjalani rawat inap seminggu di Rumah Sakit, lalu diperbolehkan pulang ke rumah.

Ketika keluar dari Rumah Sakit, mereka khusus mengucapkan terima kasih kepada-ku, lalu mengajarkan si balita untuk mengucapkan sampai jumpa kepadaku, baik orang dewasa maupun anak kecil, semuanya menebarkan senyuman bagaikan kuntum-kuntum Bunga Teratai yang sedang bersemi.

Ditulis oleh : Upasika Heng Yu



求佛加持 儿童病危立转安

我婆家的一位邻居,有一个女儿,几年前出嫁,育有一个三岁的儿子,但小孩不幸遭水灾死亡了。现今又生了一个儿子,还不足三岁。

小男孩几天前,突然发高烧,呼吸衰竭、心力衰竭,在县医院抢救无效的情况下,转入我院儿科。住院三天来,病情越来越重。小孩的妈妈在万般无奈的情况下问我怎么办?我说没有办法,只有一条路,求观音菩萨,求阿弥陀佛。小孩的爸爸说如果孩子死了,他也不活了,还说这跟他们家的祖坟有关,准备回去把他们自家的祖坟给扒了。

听了我的劝说之后,全家人跪在佛像面前哭成了一片,许愿要好好信佛、念佛。后来我送给他们一张有佛字的卡片,又送了一个念佛机给他们,放在孩子的头旁边。他们全家念佛大概一个多小时后,孩子的心衰、呼吸等问题都缓解了。我告诉他们二十四小时佛号不要间断,日夜念佛。结果孩子三天就好了,住院一周就出院了。出院时特地找到我表示感谢,让孩子跟我说再见,大人小孩都笑成一朵花。

    恒玉居士记

摘录自
《念佛感应录》第四集