Friday, January 24, 2020

20 Hidup Segan Mati Tak Mau


Kisah Melafal Amituofo Sembuh dari Penyakit 20
Hidup Segan Mati Tak Mau

Tahun 2007 oleh karena merasa tidak enak badan makanya pada bulan April memeriksakan diri ke Rumah Sakit Tongji di Wuhan (Ibu kota Provinsi Hubei), lalu divonis menderita kanker nasofaring stadium lanjut.

Kala itu saya baru berusia 44 tahun, memiliki keinginan yang kuat untuk bertahan hidup. Demi memperpanjang usia, mengeluarkan seluruh isi tabungan, menjalani pengobatan di Rumah Sakit Tongji selama 8 bulan.

Menjalani Kemoterapi, Radioterapi, setelah menerima siksaan dari beragam jenis proses perawatan, menghabiskan biaya sebesar 120 ribu Yuan.

Usai itu dokter pun terpaksa menyampaikan padaku kenyataan pahit yang sesungguhnya : “Umumnya pasien hanya sanggup melakukan 3-4 kali proses terapi, sedangkan anda malah mampu melewati sebanyak 7 buah proses terapi, namun kami menyarankan anda tidak usah melanjutkannya lagi. Alasan yang pertama, karena anda tidaklah terlampau kaya, sementara biaya pengobatan memang terlampau mahal, bagi kalian pasti merupakan tekanan mental yang berat. Alasan kedua adalah bagaimana pun diobati, maksimal juga cuma bertahan hidup setengah atau setahun saja”.

Dalam kondisi tak berdaya, hanya bisa pasrah dan pulang rumah menanti ajal. Beragam efek samping dari hasil terapi, menyiksaku bertubi-tubi. Sekarang kakiku terasa lemas tidak bertenaga, untuk berjalan harus mengandalkan tongkat.

Mataku sudah tidak sanggup melihat lagi, telingaku juga kehilangan daya pendengaran. Hatiku jadi berpikir, daripada hidup dalam kondisi begini, lebih baik mati saja, daripada merepotkan putra-putriku, menambah beban mereka, lebih baik saya cari jalan pintas saja.

Sebelum mengakhiri hidup, terlebih dulu saya bakar banyak-banyak uang kertas, takutnya nanti tidak punya duit kalau sampai di alam baka.

Saya menahan napas dan menelan sekaligus lima bungkus obat tikus, oleh karena takut kalau dosisnya tanggung-tanggung, bisa-bisa jadi setengah mati, maka lebih gawat lagi.

Tak disangka malaikat maut pun tidak bersedia menerima diriku, setelah melewati siksaan selama berhari-hari, nyawa-ku tertolong. Setelah kondisiku agak pulih, secara sembunyi-sembunyi saya mengambil pisau di dapur, lalu memotong urat nadi di pergelangan tangan kiri sebanyak dua sayatan.

Tetapi lagi-lagi dilihat anggota keluargaku, lalu diantar ke Rumah Sakit dan ditranfusi darah sebanyak enam pon cairan darah, barulah nyawaku tertolong.

Bulan Juni 2010 saya keluar dari Rumah Sakit dan pulang ke rumah, ada seorang sahabatku yang bernama Hu Cui-ling datang membesukku. Dia menasehatiku : “Daripada begitu tersiksa, lebih baik mengikutiku melafal Amituofo. Asalkan anda membangkitkan ketulusan hati melafal Amituofo, Buddha Amitabha pasti menyembuhkan dirimu, oleh karena Buddha Amitabha adalah Raja Tabib tertinggi tiada taranya. Lagi pula kalau memang masa hidup telah habis, maka bisa terlahir ke Negeri Buddha Amitabha”.

Kala itu saya juga merasa ragu, tapi diri sendiri juga tidak berdaya sama sekali, sisa harapan satu-satunya dan yang terakhir hanyalah dengan menerima metode pelafalan Amituofo.  

Tak diduga setelah melafal Amituofo, keajaiban pun muncul. Kondisi fisik hari demi hari kian relaks, semangat makin membaik. Setengah tahun kemudian, gejala penyakit mulai hilang, kakiku mulai bertenaga dan sudah bisa berjalan, mata dan telinga juga berangsur-angsur pulih seperti sedia kala.

Bulan Juli 2011, saya melakukan pemeriksaan ulang di Rumah Sakit Tongji di Wuhan, hasilnya adalah : kondisinya bagus. Saya sempat mengunjungi Profesor Yu yakni dokter yang memvonisku tempo hari, dia keheranan melihat kondisiku bukan saja membaik bahkan sudah sembuh : “Sungguh ajaib, bagaimana cara anda melakukannya?”

Saya menjawab : “Saya sekarang melafal Amituofo”. Profesor Yu tampak gembira dan menganggukkan kepala : “Iya bagus sekali melafal Amituofo! Di Wuhan juga banyak praktisi pelafal Amituofo”.

Saya adalah pasien yang divonis mati oleh ilmu kedokteran, namun sekarang saya sudah sehat dan masih hidup, ini merupakan kesempatan hidup kedua yang dianugerahkan Buddha Amitabha kepada diriku, kalau bukan melafal Amituofo, maka sejak awal saya sudah melaporkan diri ke Neraka.

Apa yang dapat saya lakukan sekarang adalah menyampaikan mukjizat hidup ini kepada setiap orang yang berjodoh, agar lebih banyak orang yang ikut melafal Amituofo.

Disampaikan oleh : Tang Liang-fang
Maret 2015
Bertempat di : Honghu, Hubei

Disadur dari ebook berjudul :
《念佛癒病》(一)



二一、癌症生不如死 念佛起死回生

我是一個在鬼門關前回來的人二○○七年因身體感到不適四月分到武漢同濟醫院檢查確診為鼻咽癌晚期

當時我只有四十四歲求生的欲望非常強烈為了能延長壽命拿出了全部積蓄在同濟醫院住院治療八個月接受過化療、放療經受了各種治療的痛苦花銷達十二萬元

最後醫生不得不說出實情她告訴我說「一般的病人都只能做三、四個療程而你卻頑強地堅持做完了七個療程我們建議你不要再治療下去了一是你們並不富裕支付這昂貴的醫療費對你們來說是有很大壓力的二是即使再怎麼治療最多也只能活一年半載

無奈之下只有回家等死疾病和治療後的各種反映把我折磨得萬分痛苦腿完全沒勁了走路要依靠拐杖眼睛基本上看不見東西耳朵也失去了聽力心想與其這樣生不如死地活著不如一死了之省得給子女增添負擔於是想到了自殺

在自盡之前我給自己燒了很多紙錢害怕死後沒錢花

我狠心一口氣吞下五包老鼠藥因為擔心劑量小死不了結果還是折騰了幾天沒死成稍微恢復了幾天我又偷偷拿起家裡的菜刀重重地砍了左手手腕兩刀但是又被家人及時發現送到醫院輸了六斤血搶救過來了

二○一○年六月分出院回家我有一個叫胡萃玲的朋友來看我她勸我說「你這麼痛苦不如來跟我念佛你只要誠心念佛阿彌陀佛一定會治好你的病因為阿彌陀佛是無上的醫王再說萬一不行了的話正好到阿彌陀佛的西方極樂世界去要不然的話你就只有下地獄的份了

我當時似信非信萬般無奈之下抱著死馬當活馬醫的想法接受了念佛
沒想到念佛後奇蹟真的出現了身體一天比一天輕鬆精神狀況一天比一天好半年後病痛基本消失腿有勁能行走了眼睛、耳朵也都逐漸恢復了正常功能

二○一一年七月分我再次到武漢同濟醫院複查結論是基本情況良好我還專門去見了我當時的主治醫生于教授于教授看到我不僅還活著而且癌症也好了驚訝地說「奇蹟呀你是怎麼轉變的?」

我說「我在念佛」于教授聽後高興的點頭說「念佛?念佛好!我們武漢也有很多人在念佛

我是被醫學判了死刑、必死無疑的人現在能健康地活著是阿彌陀佛給了我第二次生命如果不是念佛我早就下地獄了

我現在能做的就是把我生命的奇蹟轉告給有緣人讓更多的人都來念佛

(湖北洪湖 唐良方 二○一五年三月)

摘錄自 :
《念佛癒病》(一)