Thursday, January 23, 2020

15 Obat Bukanlah Penyembuh Satu-satunya


Kisah Melafal Amituofo Sembuh dari Penyakit 15
Obat Bukanlah Penyembuh Satu-satunya

Sekitar 50 tahun yang silam, ada seorang Oma oleh karena menderita sakit perut lalu memeriksakan diri ke Rumah Sakit, dokter memvonisnya menderita Kanker Lambung stadium akhir.

Waktu itu ilmu kedokteran belum maju, maka itu dokter berdiskusi dengannya : “Hidup anda tidak lama lagi, kira-kira 2 minggu lagi sudah meninggal dunia, jika anda setuju, setelah wafat nanti, bagaimana kalau jasad anda dipergunakan untuk eksperimen demi kemajuan dunia kedokteran. Dengan demikian biaya perawatan anda selama menjalani rawat inap akan ditanggung sepenuhnya oleh pihak Rumah Sakit, bahkan anda juga boleh memilih tinggal di kamar pasien VIP dan mendapat perawatan istimewa, apakah anda menyetujuinya?”

Oma berkata : “Baiklah, saya ini memang berasal dari keluarga kurang mampu, tidak punya uang untuk menjalani rawat inap di Rumah Sakit, niat baik kalian akan saya terima dengan senang hati. Lalu menyerahkan harta warisan satu-satunya yang berjumlah 30 Yuan diserahkan kepada pihak Rumah Sakit, sebagai sedikit imbalan.

Setelah melewati waktu seminggu, sebulan, dua bulan, Oma bukan saja belum meninggal dunia, bahkan kondisinya makin sehat. Tim dokter mulai menaruh curiga, mungkinkah tempo hari mereka melakukan kesilapan waktu mendiagnosis pasien?

Kemudian tim dokter melakukan pemeriksaan ulang sebanyak beberapa kali, tidak salah lagi, pasien memang mengidap kanker lambung. Selama ini pihak Rumah Sakit juga tidak memberi pasien resep obat apapun, oleh karena tidak ada obat apapun yang bisa diberikan, tetapi kenapa kondisi pasien kian hari kian membaik?

Kemudian mereka mulai mewawancara si pasien, ternyata selama menjalani rawat inap di Rumah Sakit, Oma membawa sebutir hati yang senantiasa bersyukur, meskipun usianya sudah begitu renta dan mengidap penyakit mematikan, namun dia masih sempat menikmati perawatan kelas VIP di Rumah Sakit, makanya dia memandang setiap dokter yang merawatnya bagaikan Buddha Amitabha, setiap suster bagaikan Bodhisattva Avalokitesvara, setiap orang yang menjaganya bagaikan Bodhisattva Mahasthamaprapta, sehingga dalam hatinya senantiasa merasa bersyukur, selalu merasa bersukacita.

Selain merasa bersyukur, dia juga senantiasa mengingat dan melafal Amituofo. Oleh karena alasan inilah sehingga rintangan karmanya terhapus, kondisinya berangsur-angsur pulih kembali.

Kemudian para dokter di sana mengatakan : “Kami juga ingin melafal Amituofo”.

Upaya menyembuhkan penyakit bukan harus mengandalkan perawatan medis saja, obat hanyalah mengobati gejalanya saja, tetapi niat pikiran barulah merupakan akarnya.

Sebagus apapun resep obat yang diberikan, tetapi apabila si pasien tiap hari berkeluh kesah, merisaukan ini dan itu, hatinya tidak seimbang, tidak pernah puas, maka penyakitnya takkan bisa sembuh.

Maka itu dalam waktu keseharian, praktisi sekalian hendaknya relaks dan jangan ada tekanan batin, membangkitkan perasaan sukacita, hati yang bersyukur, ikhlas menerima kerugian, jangan berperhitungan, dalam segala hal mengakui kesalahan diri sendiri, melakukan introspeksi diri, bertobat, dengan demikian barulah dapat menjauhi segala kerisauan dan penyakit.

(Ceramah Master Hui Jing tanggal 7 April 2017)

Disadur dari ebook berjudul :
《念佛癒病》(一)


十六、老太念佛 治癒胃癌

大約五十年前有一位老太太因為肚子痛到醫院去作檢查一檢查醫生說已經是胃癌末期當時醫學不進步醫生跟她商量你再活沒多久大概只剩二個星期而已如果你同意以後將你的身體留下來讓我們做實驗(大體老師)這樣你現在住院都不用錢還可以住特別病房有特別的看護這樣好不好?

老太太說好啊我本來就是窮人家沒有錢住院治療你們的好意我求之不得然後將她僅有的財產三十元都交給醫生想作為補貼經過了一個禮拜、一個月、二個月老太太不但沒死而且氣色越來越好其他醫生就開始懷疑了會不會當時檢查錯了?

再經過多次的複查沒錯確實是胃癌醫院也沒有開什麼藥方因為已經沒有藥方可給可是為什麼身體卻越來越好呢?

一問之下原來是老太太在這段期間一直抱著一份慶幸的心、感恩的心她想說自己年紀這麼大雖然得到這種病但是有這麼好的醫療醫生就像阿彌陀佛護士就像是觀世音菩薩看護者就像大勢至菩薩所以她一直抱著感恩的心、高興的心來接受之後她就想佛、念佛因為這樣她業障消了病情也漸漸轉好了

後來那裡的醫生也說我們也想要念佛了

治病不只要靠醫療藥是治標心理才是根本再怎麼好的藥方如果這個人終日苦苦惱惱的心中不平、不滿這樣病就不可能好得起來了

所以大家平常就是心情儘量放輕鬆儘量抱著高興的心、感恩的心凡事肯吃虧、不計較凡事都自己認錯、檢討自己、懺悔自己心中有柔軟的心這樣煩惱和病都會降伏

(慧淨法師講 二○一七年四月七日)

摘錄自 :
《念佛癒病》(一)