Friday, July 10, 2020

26 Pembawa Sial


Kisah Nyata Penyelamatan Buddha Amitabha
26. Pembawa Sial

Upasika Bi Xian-ying, seorang lansia dari Kota Guiyang, Provinsi Guizhou, suatu hari janjian dengan sahabat Dharma hendak mengikuti kebaktian umum di sebuah Vihara, dini hari sudah berangkat dari rumah, dia berjalan kaki sambil melafal Amituofo.

Oleh karena jalanan masih sepi, toko-toko juga belum buka semuanya, ketika dia melewati toko pertama yang baru buka, yakni kedai jual tahu, si penjual memandang ke arah Upasika Bi, lalu beralih memandang ke arah belakang, seakan-akan sedang memberi sinyal peringatan padanya, tetapi oleh karena dia sedang terfokus melafal Amituofo, makanya tidak menghiraukannya, tetap berjalan ke arah depan sambil melafal Amituofo.

Tiba-tiba ada yang menodongkan pisau ke punggungnya, sambil mendesaknya berjalan ke lorong yang sepi sambil mengingatkan dirinya tidak boleh berbicara.

Saat ini Upasika Bi baru menyadari telah berhadapan dengan perampok, pantas tadi penjual tahu memandang ke arahnya lalu memandang ke arah belakang, tetapi Upasika Bi sama sekali tidak panik, bahkan berkata pada perampok itu : “Kamu jangan bertindak sembarangan lho! Saya ini praktisi pelafal Amituofo.”

Kenapa Upasika Bi harus mengatakan kalau dia adalah praktisi pelafal Amituofo? Ternyata menurut kepercayaan masyarakat setempat, orang-orang yang berprofesi sebagai pencuri dan perampok juga mengetahui bahwa jika bertemu dengan korban yang melafal Amituofo, mereka akan mengalami nasib apes.

Kenapa bisa beredar kepercayaan sedemikian rupa? Ini juga merupakan kesimpulan dari berbagai kasus yang pernah mereka alami, menurut pengalaman "Gerombolan Siberat", jika korbannya adalah praktisi pelafal Amituofo, kalau bukan gagal merampok maka segera ditimpa Hukum Karma.

Lama kelamaan, kabar ini beredar cukup luas dalam lingkungan “Gerombolan Siberat”, bahkan kabar begini sudah diketahui masyarakat luas. Para pencuri dan perampok sangat memahami jika bertemu dengan korban praktisi pelafal Amituofo, akan membawa sial bagi mereka. Maka itu mengapa Upasika Bi berkata bahwa dia adalah praktisi pelafal Amituofo, berharap si perampok mau melepaskannya.

Upasika Bi ketika dipaksa berjalan ke dalam lorong kecil, mengulangi sebanyak tiga kali : “Kamu jangan bertindak sembarangan lho, saya ini adalah praktisi pelafal Amituofo.”

Tidak disangka pemuda ini malah bersikukuh memaksanya berjalan ke lorong yang sepi. Saat itu Upasika Bi menenteng sebuah tas, sementara itu telepon genggam dan uangnya ditaruh di dalam kantong.

Dalam hatinya berpikir : “Perampok ini sudah dinasehati tidak mau mendengar, saya juga tidak berdaya melawannya, yah sudahlah, lebih baik saya memfokuskan pikiran melafal Amituofo saja.”

Lalu dengan suara nyaring melafal : “Namo Amituofo, Namo Amituofo, Namo Amituofo.........”

Saat itu dia terkejut melihat perampok itu sekujur tubuhnya bergoyang-goyang seperti orang yang sedang menari, kedua tangannya bergerak sendiri, mulanya dia hendak mengambil harta korbannya, sekarang malah tidak bisa mengendalikan sepasang tangannya.

Beberapa orang teman si perampok yang mulanya ingin datang membantu, setelah melihat fenomena tersebut segera lari kocar-kacir.

Saat itu si perampok bahkan bicara pun sudah gemetaran : “Maaf, saya sudah tiga hari tidak makan.” Mungkin mereka telah menyaksikan secara langsung ternyata merampok praktisi pelafal Amituofo sungguh merupakan “Pembawa Sial”, maka itu mencari alasan untuk menutupi kejahatannya, dengan harapan bisa memperoleh sedikit uang iba. Kalau bukan begini, rekan-rekannya yang berbadan kuat tadi, bagaimana mungkin sudah tiga hari tidak makan?

Sekarang kondisi pun terbalik, Upasika Bi dengan suara nyaring berkata pada si perampok : “Belum makan ya? Ayo ikut denganku, kita makan di Vihara saja.”

Perampok ini meskipun punya 10 nyali juga takkan berani mengikuti Upasika Bi ke Vihara, maka itu dengan penuh hormat mengantar Upasika Bi keluar dari lorong.

Saat itu kebetulan sahabat Dharma menelepon Upasika Bi, menanyakan Upasika Bi sudah sampai mana, ketika Upasika Bi sedang berbicara di telepon, si perampok segera mengambil langkah seribu.

Upasika Bi sampai di Vihara, dengan gembira dia berkata pada sahabat Dharma : “Master Shandao berkata ‘Pedang tajam adalah sepatah Amituofo, melafal sepatah Amituofo menghapus segala dosa, hari ini saya menggunakan pedang tajam ini, melafal sepatah Amituofo menghapus segala pencuri. Bukan hanya dapat menghapus pencuri harta benda, juga dapat menghapus pencuri harta Dharma”.

Disampaikan secara lisan oleh : Venerable Fo-cheng
Dicatat oleh : Venerable Jingzong
Tanggal : 6 Januari 2010



念佛老太真神勇 一声佛号降劫贼

贵阳碧贤英老居士,某日与莲友约好去一家寺院参加法会,大清早就出了门,一路念佛往前赶。因为天太早,路上门面皆未开,遇到第一家开门的是一家豆腐店,只见老板对她看看,又对她后面看看,似乎是在提示什么,但她因为专心念佛,所以也没在意,还是往前走,一路默默念佛。

突然有人从背后将她拦腰连同双臂一把抱住,并用刀抵住后腰,一边逼向一个无人的窄巷,一边命令她不许说话。碧居士这才知道遇到打劫的了,也难怪刚才豆腐店的老板那样看她,又看看后面,但碧居士此时心里并不惊慌,反而对那打劫的青年说:「你别乱来啊!我可是念佛的人。」

碧居士为何要声明她是念佛的人呢?原来在当地,干偷抢这一行里普遍流行着一种说法,就是:干偷抢的,如果遇到了念佛的人,就是晦气。

为什么会有这样的说法?原来这也是他们多次经验的总结,就是抢劫念佛人要么不能得手,要么惨遭报应。这样时间一久,自然在他们团伙里就传开了,甚至传得外面也都知道了。所以碧居士这样说,是希望这个劫贼能放手。

碧居士被逼着往巷里走时,说了两三遍:「你不要乱来,我可是念佛的人。」没想到这个男青年还是把她往巷子里逼。碧居士此时外挎一个包,手机和钱都在贴身口袋里,心想:「到了巷里面没人看见,他就要搜身抢劫了,既然劝他不管用,我可要念佛了。」这样想着,她就双眼一闭,使出浑身的力气,猛力往下一蹲,拼命地大声呼喊:「南无阿弥陀佛,南无阿弥陀佛,南无阿弥陀佛……」

这一下,不仅她自己挣脱出来,再看那劫贼,不知何故竟像跳舞一样浑身上下颤抖,双臂、双手在空中乱舞起来,以至于他想翻开抢到手的包来搜钱,却怎么也无法打开。劫贼的后面本来还有几个同伴,正要一同上来,但一见此状,便如鸟一般地逃散了。这时,剩下的这个劫贼连声音也抖了,告饶说:「对不起,我已是三天没有吃饭了。」大概他们都亲身见证了遇到念佛人的「晦气」,所以也是为自己的恶行找点理由,以便可以得到某种宽恕吧。不然,干这行的几个身强力壮的同伙,怎么可能好几天没有吃饭?

这时,劫与被劫者在气势上完全倒了过来,轮到碧居士声大气粗地对劫贼说:「你没吃饭,跟我走,我带你到寺里去吃饭。」这劫贼就是长了十个胆也不敢跟碧居士到寺里,所以恭恭敬敬地把碧居士送出小巷。这时正好莲友打来手机,问碧居士在哪里,趁她回电话的当儿,劫贼一溜烟地跑了。

碧居士来到寺里,兴奋地对莲友们说:「善导大师说利剑即是弥陀号,一声称念罪皆除,今天我用这把利剑,一声称念贼皆除。不仅能除抢夺身财的贼,更能除劫夺法财的贼。」

    2010年1月6日 佛成法师述 净宗法师记


摘录自
念佛感应录(五)